HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DIBALIK PEPATAH "MEMBELI KITAB ATAU BUKU DAPAT MEWARISI KEKAYAAN"
Bagi seorang pecinta kitab atau buku, ia bukan sekadar benda, melainkan teman yang menemani, hiburan yang menenangkan, sekaligus jendela menuju dunia yang lebih luas. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Syekh Ali Jum’ah,
شراء الكتب يعود بعشر أمثاله رزقا
"Membeli kitab membawa kembali rezeki sepuluh kali lipat."
Maqolah ini diperkuat oleh Sulthanul Ulama Habib Salim As-Syatiri, beliau menyatakan:
شراء الكُتب مع النِّية الحسنة مِن أسباب سِعَّة الرّزق ويورث صاحبه الغنى. كان الأستاذ محمَد الخاتجي صاحب مكتبة الخانجي شغوفا بتحصيل الكتب وشرائها.. وكان عنده شقتان ملأهما بالكتب. وكان يقول: شراء الكتب يعود على صاحبه بعشرة أضعاف الثمن مجرب قلت: وهو كذلك مجرب
"Membeli kitab dengan niat yang baik merupakan sebab akan luasnya rizqi dan menyebabkan kekayaan bagi pemiliknya." Ustadz Muhammad al-Khaniji, pemilik penerbit Maktabah al-Khaniji sangat gemar mengoleksi dan membeli kitab. la punya dua rumah yang penuh dengan kitab. la sering berkata, membeli kitab akan mendatangkan uang berlipat-lipat daripada harga yang dibeli. Ini mujarab. Aku berkata (Habib Salim), ini mujarab, alias terbukti."
Di dunia literatur, tokoh fiksi seperti Brauer dalam Rumah Kertas karya Carlos María Domínguez juga memberi gambaran tentang cinta sejati terhadap buku. Brauer digambarkan sebagai pelahap bacaan yang rakus, yang sepanjang hidupnya membangun perpustakaan penting. Ia sanggup mengeluarkan uang tidak sedikit demi buku yang akan menghabiskan waktunya berjam-jam untuk mempelajari dan memahami isinya. Dari Brauer, kita belajar bahwa mencintai buku berarti memberi waktu dan perhatian pada ilmu yang terkandung di dalamnya, bukan hanya mengoleksinya.
Namun, di balik kecintaan terhadap buku, ada fenomena yang perlu diwaspadai, yaitu Tsundoku. Dalam bahasa Jepang, istilah ini menggambarkan keadaan seseorang yang memiliki atau menumpuk banyak buku, tetapi jarang atau bahkan tidak pernah dibaca. Biasanya, seorang Tsundoku membeli buku secara impulsif karena mengidolakan penulisnya, mengikuti tren, atau tergiur harga murah tanpa memastikan buku tersebut benar-benar dibutuhkan atau akan dibaca. Jika tidak dikelola dengan bijak, kebiasaan ini bisa mengganggu kondisi keuangan dan mereduksi nilai investasi buku itu sendiri.
Untuk itu, ada beberapa kiat agar membeli buku tetap bermanfaat:
-
Buat daftar buku yang ingin dibeli. Dengan daftar ini, kita bisa membeli secara terarah, bukan sekadar impulsif.
-
Pastikan buku benar-benar dibutuhkan dan akan dibaca. Buku yang menumpuk tanpa dibaca kehilangan makna filosofisnya.
-
Fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Buku yang dibaca dan dipahami lebih berharga daripada tumpukan buku yang hanya menjadi pajangan.
Singkatnya, membeli buku bukan hanya tentang menambah koleksi atau menyalurkan hobi. Dengan niat yang baik, membeli buku bisa menjadi jalan keberkahan dan rezeki, sekaligus memperkaya ilmu dan wawasan. Jadi, jangan sekadar membeli buku untuk dipajang; belilah buku untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan. Itulah investasi paling abadi bagi jiwa dan masa depan.

Posting Komentar untuk "HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DIBALIK PEPATAH "MEMBELI KITAB ATAU BUKU DAPAT MEWARISI KEKAYAAN""