KUTIPAN PENDAPAT PARA ULAMA MENGENAI MALAM NISFU SYA'BAN
Kata Sya’ban berasal dari akar kata syi‘ab yang bermakna jalan atau celah di pegunungan. Makna ini selaras dengan letak bulan Sya’ban yang hadir sebelum Ramadhan. Oleh karena itu, Sya’ban dapat dipahami sebagai fase awal upaya pendalaman ibadah, tempat seorang Muslim mulai meningkatkan amal kebaikan sebagai persiapan memasuki bulan Ramadhan yang sarat dengan keutamaan.
Malam Nisfu Sya'ban merupakan malam istimewa yang penuh berkah. Pada malam ini, Allah melimpahkan rahmat dan ampunan kepada hamba-Nya. Karena itu, alangkah baiknya kita menghidupkan malam ini dengan berbagai amalan ibadah.
Hal ini yang dipraktikkan oleh para ulama Salaf (generasi terbaik umat Islam) terdahulu. Para ulama salaf sangat memperhatikan bulan ini dengan berbagai ibadah, terutama pada malam Nisfu Sya'ban tersebut. Keterangan ini diceritakan Syekh Ibnul Hajj dalam kitabnya Al-Madkhal, dimana mereka selalu menyambut malam Nisfu Sya'ban dengan penuh kesungguhan dan melakukan banyak ibadah.
وكان السلف رضي الله عنهم يُعَظِّمونها -أي: ليلة النصف من شعبان-، ويُشَمِّرُون لها قبل إتيانها، فما تأتيهم إلا وَهُمْ متأهِّبون للقائها، والقيام بحرمتها على ما قد عُلِمَ من احترامهم للشعائر على ما تَقَدَّم ذِكْرُه؛ هذا هو التعظيم الشرعي لهذه الليلة
Artinya; "Para pendahulu kita–semoga Allah meridhoi mereka–sangat memuliakan malam tersebut (yakni malam pertengahan bulan Sya'ban). Mereka mempersiapkan diri untuk menyambutnya sebelum malam itu tiba. Ketika malam itu datang, mereka telah siap untuk menyambutnya dan melaksanakan keutamaannya dengan penuh penghormatan terhadap syiar-syiar agama, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Inilah bentuk penghormatan yang syar'i terhadap malam tersebut. (Kitab Al-Madkhal, Ibnu Hajj Al-Maliki, [Kairo, Maktabah Dar Turats: 2008 ], Jilid I, halaman 292)
Sementara itu Ibnu Rajab dalam kitab Lathaiful Ma'arif menjelaskan hal serupa, bahwa para tabi'in dari Syam, seperti Khalid bin Ma'dan, Makhul, Luqman bin 'Amir. dan lain-lain, sangat mengagungkan malam Nisfu Sya'ban dan bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam itu. Hal ini karena malam tersebut memiliki keagungan dan keistimewaan.
وليلة النصف من شعبان: كان التابعون من أهل الشام؛ كخالد بن معدان ومكحول ولقمان بن عامر وغيرهم، يعظمونها ويجتهدون فيها في العبادة، وعنهم أخذ الناس فضلها وتعظيمها
Artinya; "Dan malam pertengahan bulan Sya'ban: Para tabi'in dari penduduk Syam; seperti Khalid bin Ma'dan, Makhul, Luqman bin 'Amir dan lain-lain, mereka mengagungkan malam tersebut dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di dalamnya. Dan dari mereka, orang-orang mengambil keutamaan dan pengagungannya," (Kitab Lathaiful Ma'arif, Ibnu Rajab, [Beirut, Dar Ibnu Hazm; 2004], halaman 137).
Terkait pertanyaan apakah menghidupkan malam Nisfu Sya'ban adalah bid'ah? Para ulama klasik sepakat bahwa hukum menghidupkan malam Nisfu Sya'ban hukumnya sunah, seperti halnya menghidupkan malam-malam istimewa lainnya seperti 10 malam terakhir Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Kesunahan menghidupkan malam nisfu Sya'ban ini, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ithafus Sadah karya Sayyid Murtadha Az-Zabidi, yang mengatakan dianjurkan memperbanyak amal kebaikan di malam-malam mulia tersebut.
ومن المندوبات: إحياء ليالي العشر من رمضان، وليلتي العيدين، وليالي عشر ذي الحجة، وليلة النصف من شعبان، كما وردت به الأحاديث، وذكرها في "الترغيب والترهيب" مفصلة. والمراد بإحياء الليل: قيامه. وظاهره الاستيعاب، ويجوز أن يراد غالبه
Artinya, "Dari sunah yang dianjurkan adalah memperbanyak ibadah di malam-malam 10 terakhir Ramadhan, malam dua Hari Raya, malam pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, dan malam Nisfu Sya'ban, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits dan dijelaskan secara rinci dalam kitab "Targhib wa Tarhib". Yang dimaksud dengan "memperbanyak ibadah di malam" adalah melakukan shalat malam. Secara lahiriah, hal ini mencakup segala bentuk ibadah, dan mungkin dimaksudkan kebanyakan dari itu. (Kitab Ithafus Sadah Syarah Ihya' Ulumiddin, Murtadha Az-Zabidi, [Beirut: Dar Kutub Al-Ilmiyah: 1971], Jilid III, halaman 708)
Dalam kitab Hasyiah Qalyubi, Syekh Ahmad bin Ahmad bin Salamah Al-Qalyubi mengatakan dianjurkan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya'ban minimal dengan shalat Isya berjamaah dan bertekad bulat untuk shalat Subuh secara berjamaah pula. Sebab malam ini merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah:
يُندَب إحياء ليلتي العيدين بذكرٍ أو صلاةٍ، وأَوْلَاها: صلاة التسبيح، ويكفي مُعظَمُها؛ وأَقَلُّهُ: صلاة العشاء في جماعة، والعزم على صلاة الصبح كذلك، ومثلهما: ليلة نصف شعبان، وأول ليلة من رجب، وليلة الجمعة؛ لأنها مَحَالُّ إجابة الدعاء
Artinya, "Disunahkan menghidupkan malam-malam dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dengan berzikir atau shalat. Yang paling utama adalah shalat tasbih, dan cukup sebagian besarnya. Yang paling sedikit adalah shalat Isya berjamaah dan berniat shalat Subuh berjamaah. Sama halnya dengan malam Nisfu Sya'ban, malam pertama Rajab, dan malam Jumat, karena malam-malam tersebut merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa." (Hasyiyah Qalyubi, Ahmad bin Ahmad bin Salamah Al-Qalyubi dalam Hasyiyatani, Jilid I [Beirut, Dar Fikr: 1995 M], halaman 359).
Dalam kitab Majmuk Fatawa-nya, Ibnu Taimiyah menulis sebagai berikut.
وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ فَقَدْ رُوِيَ فِي فَضْلِهَا أَحَادِيثُ وَآثَارٌ وَنُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ فِيهَا فَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِيهَا وَحْدَهُ قَدْ تَقَدَّمَهُ فِيهِ سَلَفٌ وَلَهُ فِيهِ حُجَّةٌ فَلَا يُنْكَرُ مِثْلُ هَذَا.
Artinya, “Adapun (shalat) pada malam nisfu Sya‘ban, maka banyak hadits serta atsar dari sahabat yang menyebutkan keutamaannya. Dikutip dari segolongan ulama salaf bahwa mereka melakukan shalat pada malam nisfu Sya‘ban. Maka shalat yang dilakukan seseorang pada malam tersebut secara sendirian telah dicontohkan oleh para ulama salaf, amalan tersebut mempunyai dalil sehingga tidak perlu diingkari,”. Dari keterangan tersebut ditegaskan bahwa menghidupkan malam nisfu Sya‘ban dengan memperbanyak shalat merupakan hal yang sunah, mempunyai landasan kuat, dan banyak dalam hadits Nabi serta atsar para sahabat.
Lantas bagaimana jika shalat tersebut dilakukan secara berjamaah? Berikut pendapat Ibnu Taimiyah.
وَأَمَّا الصَّلَاةُ فِيهَا جَمَاعَةً فَهَذَا مَبْنِيٌّ عَلَى قَاعِدَةٍ عَامَّةٍ فِي الِاجْتِمَاعِ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فَإِنَّهُ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا سُنَّةٌ رَاتِبَةٌ إمَّا وَاجِبٌ وَإِمَّا مُسْتَحَبٌّ كَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَالْجُمُعَةِ وَالْعِيدَيْنِ. وَصَلَاةِ الْكُسُوفِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَالتَّرَاوِيحِ فَهَذَا سُنَّةٌ رَاتِبَةٌ يَنْبَغِي الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالْمُدَاوَمَةُ. وَالثَّانِي مَا لَيْسَ بِسُنَّةِ رَاتِبَةٍ مِثْلَ الِاجْتِمَاعِ لِصَلَاةِ تَطَوُّعٍ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ أَوْ عَلَى قِرَاءَةِ قُرْآنٍ أَوْ ذِكْرِ اللَّهِ أَوْ دُعَاءٍ. فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ إذَا لَمْ يُتَّخَذْ عَادَةً رَاتِبَةً.
Artinya, “Adapun shalat berjamaah pada malam tersebut, maka hal ini masuk dalam keumuman dalil yang menganjurkan berkumpul untuk ketaatan dan ibadah. Rinciannya dapat dibagi dua, pertama, shalat untuk dibiasakan. Shalat jamaah seperti ini sangat dianjurkan dilakukan untuk shalat wajib ataupun sunah seperti shalat yang lima waktu, shalat Jumat, shalat hari raya, shalat gerhana, istisqa’, dan tarawih. Maka shalat-shalat ini sangat dianjurkan untuk dijaga dan dirutinkan. Kedua, tidak sunah untuk dibiasakan, seperti berkumpul untuk melakukan shalat sunah secara berjamaah seperti qiyamul lail, membaca Al-Quran, berzikir, dan berdoa secara berjamaah. Namun hal ini tidak masalah jika tidak dijadikan sebagai kebiasaan (rutinitas)."
Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa mengkhususkan amalan berupa shalat pada malam nisfu Sya’ban tidaklah terlarang. Meskipun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya banyak yang dhaif, tapi tingkat kedhaifannya tidak terlalu parah sehingga masing-masing hadits tersebut bisa menguatkan hadits dhaif lainnya untuk naik ke derajat hasan li ghairihi.
Dilansir dari NU Online

Posting Komentar untuk "KUTIPAN PENDAPAT PARA ULAMA MENGENAI MALAM NISFU SYA'BAN"