Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SULTHANUL QULUB DARI JAKARTA: KISAH HABIB MUNZIR, DAI LEMBUT YANG MENGUBAH HATI DENGAN CINTA



Di sudut-sudut kota Jakarta yang penuh sesak oleh kemacetan, kepenatan, dan hiruk pikuk kehidupan, seorang lelaki berjubah putih berjalan pelan. Wajahnya berseri, matanya teduh, tutur katanya lembut, dan senyumnya seperti embun pagi yang turun perlahan menyapa bumi yang kering. Dialah Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa, sosok yang tidak datang membawa gelar-gelar tinggi, tetapi membawa sesuatu yang lebih bernilai: cinta—cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah ﷺ, dan cinta kepada umat yang sering terlupa.

Habib Munzir bukan berasal dari latar yang asing dengan keilmuan. Beliau lahir di Cipanas, Jawa Barat, pada 23 Februari 1973. Ayahnya, Habib Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa, adalah wartawan dan intelektual yang pernah menimba ilmu hingga New York, dan ibunya, Syarifah Rahmah binti Hasyim, berasal dari keluarga terhormat di Palembang. Namun arah hidup Habib Munzir muda tidak mengikuti jejak akademik ayahnya. Sejak muda, hatinya sudah terpaut pada jejak-jejak para ulama, pada jalan sunyi pencari kebenaran.

Perjalanannya dalam mencari ilmu dimulai dari berbagai pesantren di Jakarta dan sekitarnya. Beliau menempuh pendidikan di Ma’had Assaqafah, lalu melanjutkan ke Ma’had al-Khairat di Bekasi. Di tempat inilah ia bertemu dengan seorang guru besar dari Yaman, Habib Umar bin Hafidz, yang kemudian menjadi poros perubahan hidupnya. Atas arahan sang guru, Habib Munzir melanjutkan studinya ke Dar al-Mustafa di Tarim, Yaman, pada tahun 1994.

Di kota kecil yang dihuni oleh para pecinta ilmu dan pencari ketulusan itu, Habib Munzir menghabiskan waktunya untuk mempelajari fiqh, tafsir, hadits, akidah, dan terutama tasawuf. Di sana beliau belajar bukan hanya tentang apa yang benar dan salah, tapi juga bagaimana menjadi pribadi yang lembut, sabar, dan merendah. Beliau menyerap nilai-nilai spiritual bukan sekadar sebagai wawasan, tetapi sebagai jalan hidup.

Empat tahun kemudian, beliau kembali ke Indonesia dengan satu niat kuat: menghidupkan kembali cinta kepada Rasulullah di tengah masyarakat yang mulai kering ruhani. Ia tidak memulai dari atas panggung besar. Beliau memulai dari bawah yaitu dari rumah ke rumah, dari gang kecil ke gang lainnya, dari musholla sederhana ke masjid yang hampir kosong. Dengan sabar, beliau menanam benih cinta di hati orang-orang yang ia temui.

Tahun 1998, ia mendirikan Majelis Rasulullah SAW, sebuah majelis dzikir dan ilmu yang awalnya hanya dihadiri beberapa orang. Beliau mengajar dengan pendekatan yang unik dan penuh empati, jauh dari sikap menggurui. Beliau tidak memaksa orang berubah, tetapi mengajak mereka mengenal keindahan Islam. Beliau tidak berteriak-teriak di mimbar, melainkan berbicara dari hati ke hati. Kata-katanya sederhana, namun menyentuh.

Habib Munzir adalah sosok yang menyadari bahwa jalan dakwah bukan hanya untuk orang alim, tetapi juga untuk orang awam, bahkan untuk mereka yang telah lama tersesat. Ia membuka pintu bagi siapa pun yang ingin belajar, siapa pun yang ingin kembali. Di majelisnya, pemuda-pemuda yang dulu tak pernah menginjak masjid kini datang membawa mushaf. Mantan pengguna narkoba kini hafal shalawat. Anak-anak jalanan mulai menjaga wudhu dan memuliakan orang tua. Semua itu bukan karena ia menghakimi mereka, tapi karena ia menerima mereka dengan cinta dan harapan.

Salah satu ciri khasnya adalah kedekatan yang begitu tulus kepada umat. Beliau hadir di tengah masyarakat tanpa sekat. Beliau biasa mendatangi rumah jamaah, mendengarkan keluh kesah mereka, memberi pelukan, memimpin doa, bahkan menyempatkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan di sela-sela jadwal padatnya. Ia adalah ulama yang tidak hanya hadir di mimbar, tapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari umatnya.

Habib Munzir pun sangat menjunjung tinggi adab kepada guru. Beliau begitu tawadhu kepada Habib Umar, guru sekaligus orang tuanya dalam ruhani. Ketika suatu waktu sang guru menegurnya agar lebih banyak bersabar dan tidak terburu-buru dalam berdakwah, ia menunduk dan menerima dengan lapang dada. Ia paham, keberkahan ilmu terletak pada ketundukan kepada guru. Dan karena itu pula, dakwahnya terus berkembang tanpa ia perlu mempromosikan dirinya.

Dalam kehidupan pribadinya, Habib Munzir hidup sederhana. Beliau menikah dengan Syarifah Khadijah Al-Juneid dan dikaruniai tiga anak. Meski waktu dan tenaganya banyak tersita untuk umat, beliau tetap hadir untuk keluarganya sebagai ayah dan suami yang penyayang. Kesederhanaan rumahnya menjadi saksi betapa dunia bukanlah tujuannya. Yang ia cari hanya rida Allah dan syafaat Nabi Muhammad ﷺ.

Wafatnya pada 15 September 2013 menjadi duka yang dalam bagi banyak orang. Jakarta menangis. Langit seperti redup. Ribuan orang tumpah ruah menghadiri pemakamannya. Tidak sedikit yang menyebut bahwa kota kehilangan penyejuknya. Namun ajaran yang ia tinggalkan tetap hidup. Majelis Rasulullah terus berjalan, dan semangat dakwahnya terus menyala dalam diri para murid dan penerusnya.

Habib Munzir telah pergi. Tapi senyumannya, tutur lembutnya, dan cinta yang ia taburkan, akan tetap tumbuh di hati mereka yang pernah disentuh oleh cahaya dakwahnya. 

1 komentar untuk "SULTHANUL QULUB DARI JAKARTA: KISAH HABIB MUNZIR, DAI LEMBUT YANG MENGUBAH HATI DENGAN CINTA"

  1. 🥹
    jadi ingat kk fatima musawa🥹❤️‍🩹

    BalasHapus