SULTANAH MALIKAH NAHRASIYAH: RATU PEREMPUAN PERTAMA YANG MENGUKIR SEJARAH SAMUDERA PASAI
Pernahkah kamu mendengar kampus UIN Sultanah Nahrasiyah di Lhokseumawe, Aceh? Nama kampus ini bukan sekadar identitas akademik, melainkan penghormatan terhadap seorang perempuan legendaris yang memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada awal abad ke-15: Sultanah Malikah Nahrasiyah. Sosoknya menjadi simbol kepemimpinan perempuan dalam sejarah Islam di Nusantara, sekaligus inspirasi bagi generasi muda Aceh dan seluruh Indonesia.
Latar Belakang dan Keluarga
Sultanah Nahrasiyah lahir sebagai putri dari Sultan Zainal Abidin, penerus Kesultanan Samudera Pasai, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara, berdiri sekitar tahun 1267 M. Ia merupakan keturunan Sultan Malik as-Salih, pendiri Samudera Pasai, sehingga darah kepemimpinan dan pengaruh politik telah mengalir dalam dirinya sejak lahir.
Gelar pada nisan makamnya, “Ra-Baghsa Khadiyu”, yang berarti “Penguasa yang Pemurah”, mencerminkan reputasinya sebagai pemimpin yang bijaksana dan adil. Makamnya yang berada di Gampong Kuta Krueng, Aceh Utara, bahkan terbuat dari pualam (marmer) yang diimpor dari Gujarat, India, dihiasi kaligrafi Arab dan Melayu kuno, menjadi bukti kemegahan serta penghormatan tinggi terhadapnya.
Naik Takhta dan Masa Pemerintahan
Nahrasiyah naik tahta menggantikan ayahnya setelah wafat sekitar tahun 1405 M. Pemerintahannya berlangsung antara 1404–1428 M, periode yang dikenal dengan kemajuan ekonomi dan pengaruh maritim Samudera Pasai yang kuat. Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan strategis di Selat Malaka, menarik pedagang dari India, Arab, dan Asia Tenggara.
Sebagai seorang ratu, Nahrasiyah memimpin dengan kebijaksanaan, ketegasan, dan sifat keibuan. Ia dikenal menyeimbangkan antara stabilitas internal kerajaan dan penguatan hubungan luar, termasuk diplomasi perdagangan dengan kerajaan lain di Asia Tenggara dan India. Di bawah pemerintahannya, Samudera Pasai mencetak koin emas dan dinar, yang memperkuat ekonomi dan legitimasi kerajaan.
Kepemimpinan yang Menginspirasi
Sultanah Nahrasiyah bukan hanya seorang pemimpin simbolis. Meski catatan rinci tentang administrasi dan militer terbatas, beberapa aspek kepemimpinannya tercatat:
-
Kemajuan Ekonomi dan Maritim: Mengatur jalur perdagangan strategis yang memperkuat posisi Samudera Pasai di Asia Tenggara.
-
Diplomasi dan Hubungan Internasional: Mempertahankan hubungan baik dengan kerajaan tetangga, serta pedagang dari India dan Gujarat.
-
Kepemimpinan Perempuan: Sebagai penguasa perempuan di masa didominasi laki-laki, ia menjadi simbol keberanian dan legitimasi sosial.
-
Sifat Keibuan dan Keadilan: Kepemimpinannya menekankan kesejahteraan rakyat, stabilitas internal, dan penyelesaian konflik secara adil.
Warisan ini tetap hidup hingga kini sebagai inspirasi kepemimpinan perempuan di Aceh dan Nusantara.
Wafat dan Warisan Sejarah
Sultanah Nahrasiyah wafat pada 17 Dzulhijjah 831 H (sekitar 1428 M). Makamnya tetap menjadi situs sejarah penting, sekaligus destinasi wisata budaya. Selain itu, namanya diabadikan oleh Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) di Lhokseumawe, yang menjadi simbol penghormatan terhadap jasa dan kepemimpinan ratu legendaris ini.
![]() |
| Makam Sultanah Nahrasiyah |
Kesimpulan
Sultanah Malikah Nahrasiyah adalah contoh nyata bahwa perempuan dapat memimpin dengan keberanian, kebijaksanaan, dan dedikasi. Dari darah kerajaan, pendidikan Islami, hingga kemampuan strategi dan diplomasi, ia membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal gender, tetapi visi dan keteguhan hati. Kini, generasi muda Aceh dapat meneladani warisannya melalui pendidikan di kampus yang menamakan dirinya, UIN Sultanah Nahrasiyah, menjembatani sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan.
.jpg)

Posting Komentar untuk "SULTANAH MALIKAH NAHRASIYAH: RATU PEREMPUAN PERTAMA YANG MENGUKIR SEJARAH SAMUDERA PASAI"