CARA MUSLIM MENGHARGAI WAKTU DAN HIDUP MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH
Waktu
merupakan salah satu aspek paling berharga dalam kehidupan manusia. Namun,
banyak orang lalai menyadari nilainya. Dalam kesibukan sehari-hari, waktu
berlalu tanpa amal berarti sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Karena itu,
setiap insan perlu bermuhasabah—merenungi bagaimana waktu telah digunakan dan
ke arah mana usia dihabiskan.
Allah Swt
mengingatkan manusia agar tidak menjadi golongan yang merugi dalam firman-Nya:
وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi
masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan
kesabaran.” (QS.
Al-‘Asr [103]: 1–3)
Banyak
orang mengira nikmat hanya berupa harta, rumah, atau kemewahan. Padahal,
kesehatan, ketenangan, dan waktu luang juga bagian dari nikmat besar Allah.
Nabi Muhammad Saw bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua
nikmat yang banyak manusia melupakannya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Waktu
luang adalah tanda ketercukupan. Karenanya, siapa pun yang diberi sehat dan
waktu lapang harus berhati-hati agar tidak menyia-nyiakannya untuk hal sia-sia.
Rasulullah
Saw juga berpesan agar umat Islam memanfaatkan waktu sebelum datang masa
penyesalan:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah
lima masa sebelum datang lima keadaan: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu
sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu
sebelum matimu.” (HR.
Al-Hakim)
Kata “اغتنم” berarti mengambil sesuatu yang
berharga dan menjadikannya nikmat. Artinya, setiap kesempatan hidup—sehat,
muda, lapang, dan berkecukupan—hendaknya digunakan untuk beramal saleh sebelum
semuanya berlalu.
Setiap
nikmat akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk umur dan waktu. Rasulullah
Saw bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ
حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ
فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ
جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Tidak
akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya empat
hal: tentang umur, untuk apa ia habiskan; tentang ilmu, bagaimana ia amalkan;
tentang harta, dari mana ia peroleh dan ke mana ia infakkan; serta tentang
tubuh, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)
Waktu
adalah nikmat, tetapi juga ujian. Ia tak bisa dibeli dan tak akan kembali.
Karena itu, bijaklah mengelola setiap detiknya untuk kebaikan. Sebab waktu yang
dihabiskan hari ini akan menjadi saksi di hadapan Allah kelak.
“والوقت أنفس من عنيت بحفظه, وأراه أسهل ما عليك يضيع”
“Waktu adalah sesuatu yang paling berharga jika kau jaga, dan aku lihat, ia
pula yang paling mudah hilang darimu.”
Sebagaimana
pesan dalam Ta‘lim al-Muta‘allim:
تعلم فإن العلم زين لأهله # وفضل وعنوان لكل المحامد
وكن مستفيدا كل يوم زيادة # من العلم واسبح في بحور
الفوئد
“Belajarlah,
sebab ilmu adalah hiasan bagi pemiliknya, kemuliaan, dan tanda segala pujian.
Jadilah orang yang setiap hari menambah pengetahuan, berenang di samudra
manfaat.”

Keren bnget
BalasHapus